Konseling / Uncategorized

Buli Buli Yang Di Pecahkan“ Pdt. Agustinus Tupamahu, S.Th

Persekutuan yang di kasihi Tuhan,

Tema “Buli-buli yang di pecahkan “sebuah terobosan telah di lakukan seorang wanita yang bernama Maria saudara dari Marta dan Lazarus.Ia bukan “siapa siapa dan bukan apa – apa” ia hanya seorang wanita yang kurang di perhitungkan dalam adatYahudi saat itu.Sebab tidak ada keberpihakan dan hak suara pada komunitas mereka. Tetapi terobosan itu telah mencatat nama Maria sebagai seorang yang akan selalu di kenang dalam pengurapan Yesus menjelang kematianNya, Sosok maria membuat terkesan dengan keluguan, ketulusan, kesederhanaan dan keberanian untuk mengekspresikan tanda kasih dan hormat kepada Tuhan Yesus.

Maria sadar kemungkinan resiko yang akan diterimanya tetapi motivasinya jelas! ia diprotes sebagai perempuan yang boros oleh Yudas Iskariot. Tetapi tidak menjadi soal bagi maria sekalipun kwalitas minyak narwastu itu mahal. Sebab dari pengajaran Yesus, ia telah mendengar banyak hal yang berbeda, Terutama tentang kasih Allah bagi manusia di dalam AnakNya Tuhan kita Yesus Kristus. Di dalam Yesus maria menemukan jati dirinya sebagai seorang perempuan yang di hargai.Tetapi Yudas Iskariot sekalipun dekat dengan Tuhan Yesus setiap hari tetapi hatinya jauh dari Tuhan.

Perjumpaan dengan Tuhan Yesus mengubah jati diri maria seutuhnya, ia mengalami kasih karunia Allah. Ia adalah wanita yang tahu memberi yang terbaik kepada Tuhan. Sama seperti marta saudaranya yang selalu memberikan pelayanan terbaik dalam bentuk yang berbeda. Tetapi pelayanan yang di berikan maria dan marta itu sama pentingnya dan di butuhkan oleh Tuhan Yesus. Kalau di tanya seberapa banyak para wanita kristen masa kini yang bertindak seperti maria atau marta.Saya pikir seimbang sebab para wanita umumnya hendak memberikan yang terbaik pada Tuhan dari pada hidup dan kerjanya.

Tahun 1998 sekitar 16 tahun yang lalu , waktu itu kami masih bertugas di pedalaman Kebar, perbatasan antara Sorong Manokwari sekarang Kabupaten Tamraw.Budaya patriakal masih terasa sangat kuat, kaum perempuan bekerja keras sebagai peladang yang merupakan mata pencaharian utama penduduk asli Kebar saat itu. Karena mereka hidup dari hasil kacang tanah yang dijual ke kota Manokwari.Kami hanya dapat bertemu pada ibadah persekutuan Wanita pada setiap hari minggu selesai ibadah jemaat.Karena selama seminggu dari pagi sampai petang kebanyakan kaum, perempuan pergi bekerja di kebun.Tingkat kematian ibu melahirkan masih cukup tinggi tetapi juga kemampuan baca tulis tergolong rendah.Ini sebuah pergumulan dan tantangan yang besar.

Dari seorang ibu yang bernama Dortea kemudian kami mengetahui tentang dirinya yang pernah di bina oleh P3W GKI, sehingga memotivasi kami mengadakan suatu kegiatan pembinaan untuk PW GKI Kebar. Sejak saat itu hampir setahun segala persiapan dilakukan terutama dengan menanam kacang tanah dan sayur sebagai usaha dana untuk membiayai kegiatan tersebut. Setelah dana mencukupi kami menyurati P3W di Jayapura waktu itu almarhum mama Yoyo Erari (pimpinan P3W-GKI) saat itu, masih ada dan surat kami ditangapi secara baik.Sehingga pada waktu pelaksanaan dari P3W GKI mendatangkan tenaganya saya ingat waktu itu ada mama Tina Damimetou dan Ibu Debora Busira. Mereka datang memberikan pembinaan kepada PW Klasis Kebar, mengajar tentang mengolah makanan dari bahan setempat, Jahit –menjahit, kesehatan, Hiasan dari bahan setempat dan juga pelajaran berani tampil bagi yang bisa baca tulis untuk melayani ibadah dan bongkar pasang mesin jahit ( kerjasama dengan MCC ).

Kehadiran P3W disana seperti mata air yang memberikan kesejukan dan motivasi bagi kaum perempuan di lembah terpencil menemukan jati dirinya sebagai perempuan bermartabat, sehingga dari tema HUT P3W GKI ke 52 tahun ini “ Didikan yang mendatangkan Pandai, Kebenaran, Kebaikan dan Kejujuran ( Amsal 1 : 3 )” seperti itulah beberapa profil tenaga siap di pakai atau lapangan yang di hasilkan oleh P3W dalam rana pembinaan dan pengembangan wanita GKI di Tanah Papua, seperti pengalaman bersama PW di Klasis GKI Kebar.

Lima puluh dua tahun adalah usia yang panjang, sarat dengan berbagai tantangan dan persoalan yang sudah di lalui oleh P3W hingga saat ini mereka tetap eksis.Sebuah lembaga wanita yang cukup sukses dan menjadi kebanggaan bagi GKI di Tanah Papua.Saya pikir itu semata-mata karena hati seorang hamba dari pada “Maria – Maria masa kini “yang telah di panggil dan memecahkan buli – buli berharga yang ada pada mereka bagi keharuman nama Kristus di atas tanah ini.

Pekerjaan ini memang tidak mudah, tidak saja membutuhkan pengetahuan tetapi juga kerendahan hati terutama hikmat Tuhan.Sebab dengan hikmat yang Tuhan taruh pada hati dan pikiran mereka ada perempuan – perempuan yang mau memberikan yang terbaik dari kehidupan mereka, pendidikan mereka, pengetahuan mereka, talenta mereka bagi Tuhan dan sesama. Sebab hikmat itu Tuhan tidak kasih kepada orang yang punya pengetahuan saja,Maria hanya seorang perempuan biasa yang mungkin tidak di perhitungkan, tetapi ia adalah seorang perempuan biasa dari sebuah kampung kecil, Betania dapat mengurapi Tuhan Yesus ini luar biasa.

Maka sebagai kaum perempuan jangan sekali –kali menilai diri sendiri rendah atau merasa minder, merasa tidak berarti karena tidak sama seperti yang lain. Sebab sekali lagi hikmat Tuhan itu tidak diberikan kepada orang –orang yang berpengetahuan saja, tetapi kepada mereka yang mau belajar dari kehidupan Maria, yaitu kepada setiap orang yang mau merendahkan hati dan duduk di kaki Yesus sampai Tuhan memberikan hikmatNya pada mereka.

Menurut Amsal pasal 1 salah satu dari bentuk hikmat adalah untuk memberi didikan, jadi dengan hikmat Tuhan semua kaum perempuan terpanggil untuk mengambil peran dan fungsinya menciptakan generasi yang lebih baik, generasi yang cerdas dan beriman, generasi yang menghargai nilai kebaikan, kebenaran dan kejujuran.

Pekerjaan ini tidak mudah, di dalamnya tentu ada tangis dan air mata dalam didikan itu ujungnya adalah Emas, jadi hasil akhir itulah yang sekarang menjadi sasaran yang harus kita perjuangkan dalam tugas sebagai pendidik ditengah keluarga, persekutuan bahkan menjangkau mereka di sudut terpencil tanah ini sebagaimana dilakukan oleh P3W GKI di Tanah Papua ini.

Oleh karena itu tema P3W ini kiranya dapat memotivasi setiap perempuan atau kaum ibu untuk memainkan peran dan fungsi kita masing-masing, Ingat !Tuhan Yesus tidak memandang rendah seorang wanita, Tuhan Yesus meniadakan budaya yang merendahkan kaum wanita. Tuhan Yesus tidak menuduh(tidak melihat) ibu-ibu sebagai perempuan gagal atau berdosa.Di dalam Yesus setiap perempuan mendapat tempat untuk melayani dan berkarya bagiNya.

Tuhan Yesus memberikan kepada kita kesempatan apakah kita mau datang seperti Maria rendah hati duduk di kaki Tuhan ? Karena Dia akan memberikan hikmat itu kepada ibu-ibu, dan dengan hikmat itu ibu – ibu dapat mengambil dan memainkan peran dan fungsi yang penting dan menjadi berkat di tengah keluarga, persekutuan dan masyarakat dimana kita ada.

Buatlah sesuatu yang dapat dikenang dan menjadi berkat, jadilah Maria- Maria masa kini secara khusus P3W GKI dalam Usia ke 52 tahun untuk selalu memberikan didikan yang mendatangkan kepadaian, kebenaran, kebaikan, dan kejujuran bagi kaum wanita GKI di Tanah Papua, sebagaimana perbuatan Maria selalu di kenang dalam peringatan kematian Yesus.

Tuhan Memberkati kita dengan firman-Nya dan selamat ulang tahun kepada keluarga besar Pusat Pembinaan dan Pengembangan Wanita GKI DI Tanah Papua,Syalom. Amin

(Renungan ini dibawakan pada Ibadah syukur HUT P3W-GKI & Ibadah Gabungan PW Se-Klasis Jayapura, di Jemaat SION Padang Bulan)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s